Fauzan, penjual bendera asal Kota Garut
SUMENEP:Siang itu, di bawah teriknya sinar Matahari, saya menyusuri jalanan trotoar di sekitar Kota Sumenep. Di sepanjang perjalanan, tepatnya di Jalan Trunojoyo, Saya melihat aneka ragam bendera merah putih berlambai-lambai, seraya menyapa sambil diterpa angin sejuk di tengah panasnya sinar Matahari.
Perlahan-lahan saya berjalan sambil memandangi aneka bentuk bendera yang dipajang di pinggir jalan oleh para pedagang. Sepintas terketuk dalam hati, bahwa saat ini sudah masuk bulan Agustus, yaitu, momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74.
Dengan berkibarnya sang merah putih, terbayang betapa besarnya perjuangan para pahlawan yang telah gigih melawan penjajah. Bahkan sampai ada yang gugur di medan pertempuran demi kemerdekaan rakyat Indonesia. Bayangkan selama tiga abad lamanya, mereka berjuang mempertaruhkan nyawa. Sungguh sangat berdosa bila para generasinya tidak bisa melestarikan kemerdekaan ini.
Setelah lama saya terbawa renungan membayangkan gigihnya pejuang kemerdekaan tempo dulu, yang hanya saya saksikan di film-film tentang peperangan kemerdekaan. Kalau tidak salah saya pernah nonton aktornya Roy Martin. Pada waktu itu di TVRI yang masih belum berwarna seperti sekarang.
Kemudian saya menghampiri salah satu pedagang, Fauzan (50) warga Kota Garut, yang tengah antusias memajang bendera untuk menarik perhatian pembeli.
Saya berusaha mewawancarai, dan ternyata dia sangat familiar, dan bersedia untuk diliput. Dia pun menjelaskan, bahwa jauh-jauh datang dari kota Garut ke Sumenep, untuk mendapatkan berkah dari momentum kemerdekaan, atau lumrah dikenal Agustusan. Dengan menjual aneka macam bendera. Bahkan kata dia bukan kali ini saja menjual bendera di Sumenep, tetapi sudah rutin setiap tahunnya. Dia bersama teman dan sanak familinya sekitar 30 orang yang berjualan di sekitar kota Sumenep.
Jadi, walaupun jauh dari Kota Garut, tetapi, karena dukungan semangat 45 seperti berkibarnya bendera merah putih yang ia jual. Dia bersyukur setiap harinya mampu memperoleh omset Rp 500 ribu lebih perharinya. " Alhamdulillah mas, banyak yang membeli berkat bulan agustusan katanya," seraya tersenyum bahagia.
Sedangkan harganya bervariasi, mulai dari Rp 5rb rupiah hingga Rp 200 ribu rupiah per potong bendera sesuai besar-kecilnya,"Insaallah saya berjualan disini hingga tanggal 16 agustus ini," ucapnya.
Jadi, belajar dari Fauzan ini, intinya melakukan sesuatu apapun harus didorong rasa semangat juang yang tinggi seperti yang dicontohkan para pejuang 45. Sebab kalau tidak semangat dan tidak yakin pada dirinya sendiri maka harapan untuk berhasil dan sukses kemungkinannya sangat kecil.
Semestinya, momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 ini, sejumlah beragam peristiwa, sejarah dan cerita yang dapat dipetik sebagai bahan renungan dan motivasi kedepan untuk menjadi generasi yang lebih maju dan tangguh.
Karena diakui bersama, para pemimpin bangsa ini, mulai dari Presiden pertama yaitu, Presiden Dr. Ir. H. Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Megawati Soekarnoputri, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Susilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi Dodo. Sudah pasti memiliki semangat yang tinggi dan percaya pada dirinya sendiri. Karena masing-masing mereka merupakan putra dan putri terbaik bangsa ini.Terlepas masa siapa yang paling baik, tetapi, yang pasti terdapat kelebihan dan kelemahan dari masing-masing kepemimpinan mereka. Namun, saya tetap meyakini para Presiden RI itu, merupakan generasi pejuang, di mana jiwa dan raganya sepenuhnya untuk negeri tercinta ini.
Justru, yang perlu dipertanyakan para generasi saat ini. Sudah sejauh mana kontribusinya dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan seperti yang diharapakan oleh para pendiri bangsa ini. Seharusnya generasi saat ini, lebih semangat lagi melestarikan kemerdekaan dengan torehan prestasi yang membanggakan yang akan terus membawa nama harum negeri ini di mata international.
Bukan sebaliknya, menodai negeri ini dengan perbuatan yang tidak beretika. Seperti, terlibat narkoba, melakukan tindakan kriminal, korupsi dan praktek asusila, seperti yang terjadi baru-baru ini di wilayah hukum paling ujung timur Pulau Madura ini. Sungguh, memprihatinkan melihat prilaku generasi masa depan tidak dapat meneladani para pejuang kemerdekaan yang sudah bersusah payah, bahkan berdarah-darah demi mejudkan kemerdekaan dari tangan penjajah. Alangkah berdosanya kita selaku generasi yang sangat diharapkan memajukan negeri ini malah menodai dengan prilaku yang menjijikkan. Tsumma naudubillah..Salam Merdeka!
Penulis, adalah pecinta kopi hitam tinggal di Bluto Sumenep.
Thursday, August 1, 2019
Monday, July 29, 2019
Perlu Mempertajam Branding, Menuju Sumenep Kota Wisata
Untuk mewujudkan kesuksesan Visit Sumenep 2019, maka tidak bisa dilepaskan dari branding yang dibangun dengan narasi yang meyakinkan publik secara massif dan berkesimbungan. Bahkan kalau perlu semua visi pembangunan itu muaranya ke branding wisata itu sendiri. Seperti yang dicontohkan daerah lain yang sukses dari sektor pariwisatanya, semisal Kota Batu, dan Pulau Dewata Bali. Dimana bangunan narasinya atau branding dua kota wisata itu sangat kuat. Sehingga ketika orang menyebut Kota Batu dan Bali, maka yang tampak adalah wisatanya.
Hal semacam itu, bukan sebuah kemustahilan bagi Kabupaten Sumenep, yang kaya destinasi wisata, budaya, kesenian, kerajinan dan peninggalan kerajaan sebagai cirikhas ikon Sumenep. Sungguh sangat luar biasa bila betul-betul dikelola oleh orang-orang profesional dan visioner. Mampu mendesain visit sebagai pintu masuk menjadikan kota Sumenep, sebagai Kota rujukan wisata di Madura pada khususnya.
Menyimak Perkembangan Destinasi Unggulan di Sumenep
Namun ketika melihat perkembangan destinasi unggulan di Sumenep. Terkadang sangat pesimis. Seperti melihat perkembangan wisata Pantai Salopeng dan Lombang. Entah, sudah beberapa kali kegiatan event di dua destinasi wisata Pantai Salopeng dan Pantai Lombang ini digelar. Selain kegiatan yang masuk event baik visit 2018 maupun event 2019. Tetapi, sepengetahuan saya, sejak kecil sudah seringkali datang ke dua lokasi ini. Kalau tidak salah setiap momentum lebaran ketupat rutin digelar sejumlah hiburan, mengundang sejumlah pihak termasuk para artis untuk menyedot pengunjung agar datang ke tempat ini, untuk menikmati keindahan pantai dengan balutan pasir putih dan pohon cemaranya yang rindang.
Bahkan saya dengan temen-temen lainnya, utamanya yang jurnalis televisi, seringkali liputan dua tempat wisata ini. Bahkan bisa dibilang sudah menjadi langganan liputan di setiap momentum liburan, baik liburan sekolah, lebaran, dan hari-hari penting nasional. Dari liputan itu seringkaki tayang di siaran berita nasional.
Belum lagi yang sudah diaplud di media sosial, bisa dibilang puluhan bahkan ratusan akun youtube yang telah mengaplud dua destinasi wisata di bawah pengelolaan Dispubparpora ini.
Perkembangan terbaru, dua wisata bahari ini, sama-sama digelar festival batik on the sea. Yang tentunya dari kegiatan itu diharapkan mampu mendongkrak pendapatan asli daerah PAD dari dua destinasi wisata ini. Mungkin pemerintah Kabupaten Sumenep, sudah melakukan sejumlah upaya, Seiring mulai banyak bermunculan wisata baru, yaitu wisata buatan, milik swasta yang mampu menyedot pengunjung. Sehingga dua wisata milik Pemkab ini mulai "Tersaingi".
Melihat kondisi dua tempat wisata, yang sejauh ini belum ada "Perkembangan yang signifikan", muncul beragam pertanyaan. Salah satunya datang dari seorang pengunjung Astuti, saat menikmati suasana pantai salopeng dan menyaksikan fashion show batik on the sea, beberapa hari yang lalu, bahwa pantai Salopeng sebenarnya sangat berpotensi bisa dikembangkan dan juga bisa terkenal mengalahkan wisata bahari daerah lain di Jawa Timur, dengan sarat penunjangnya harus dilengkapi. Misalkan, wahana permainan dan fasilitasnya dibenahi, kemudian dilengkapi dengan tempat penginapan di sekitar lokasi wisata. Sehingga pengunjung yang datang lebih kerasan berlama-lama di tempat ini. "Mestinya di tempat wisata itu, juga ada aksesoris produk lokal cirikhas sumenep yang dipasarkan sebagai oleh-oleh pengunjung, termasuk kuliner yang merupakan asli lokal sumenep," katanya.
Padahal untuk dua wisata ini sudah dianggarkan pememilaharan di APBD 2019 masing-masing Pantai Lombang sekitar Rp 2,2 miliar dan Pantai Salopeng Rp 1 miliar lebih, (radarmadura.jawapos.com., 7/1/2019).
Bahkan seringkali wakil rakyat berteriak agar pengelolaan dua destinasi wisata ini lebih maksimal, sehingga mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bukan sebaliknya, hanya menjadi beban APBD yang dinilai tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap daerah itu sendiri.
Lantas, kemana dampak dari 36 event visit 2018, kemudian ditambah lagi dengan 40 event visit 2019 yang dicanangkan pemerintah dengan anggaran yang tentunya begitu fantastis. Saya terkadang larut dalam kebingungan sendiri, dan bertanya-tanya sendiri, lalu seperti apa sih konsep yang diinginkan pemkab Sumenep, untuk memajukan dalam sektor wisatanya?.
Padahal kalau berkaca pada Kota Batu Malang, yang hanya memiliki tiga kecamatan, tetapi berhasil membrending Kota Batu menjadi kota wisata yang tidak sepi dari pengunjung setiap harinya. Bahkan setiap akhir tahun Kota Batu selalu menjadi pilihan para wisatawan dari berbagai daerah. Wallahu'alam Bissowe.
Penulis, Pecinta Kopi Hitam, Tinggal di Bluto, 30 juli 2019.
Sunday, July 28, 2019
Menengok Kelemahan Pemimpin Generasi Milenial
(Sebuah Analisis Pakar Kepemimpinan, Andrew Senduk)
Istilah "Milenial" belakangan mulai tren diperbincangkan. Apalagi semakin mendekati momentum "Pilkada" mulai marak bermunculan calon-calon pemimpin generasi milenial yang akan diorbitkan. Hal ini dampak pengaruh Pilpres kemarin, istilah milenial sangat populer, mencuat ke permukaan. Bahkan viral di media sosial. kaum "Emmak-emmak' mengelukan sosok Sandiaga Uno menjadi calon pemimpin milenial masa depan yang dinilai mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Walaupun pada akhirnya harus menelan pil pahit, karena keinginan itu harus pupus, tidak sejalan dengan kenyataannya.
Tetapi, bagi sejumlah pakar kepemimpinan memiliki pandangan berbeda tentang potensi kepemimpinan para milenial, salah satunya, Andrew Senduk, Pakar Kepemimpinan serta start-up. Asal Belanda yang pindah ke Indonesia sejak 2013 lalu, ia telah aktif di dunia start-up lokal. Dalam 5 tahun perjalanannya, akhirnya ia memutuskan menulis buku untuk membahas isu seputar milenial.
Ketika ditanya mengenai apa isu yang dihadapi milenial sebagai pemimpin, Andrew menyebut ada dua permasalahan utama, salah satu tantangan dari generasi ini adalah jangka perhatian yang pendek short attention span, (Liputan6.com, Selasa16/10/2018).
Jangka perhatian pendek yang dimaksud Andrew adalah para milenial lebih menyukai hasil yang instan. Misalkan tidak ada hasil yang jelas dalam 24 jam, maka mereka mulai mengeluh, atau cemas, atau tidak sabaran.
Selanjutnya, Andrew menyinggung kehidupan di era media sosial. Menurut dia, para pemuda terancam kehilangan jati dirinya karena terdistraksi bermacam hal di dunia maya. Bahkan bisa melihat hidup orang lain secara online, lalu dibanding-bandingkan sama teman-teman yang sudah lebih jauh dalam karier atau profesi.
Melihat generasi milenial yang penuh potensi, tetapi tetap butuh panduan, ia pun akan menerbitkan buku berjudul Ignite Millennial Leadership yang terbit di tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Namun, dia juga percaya bahwa generasi milenial adalah pemimpin masa depan negara ini. Tetapi butuh bimbingan, atau keterlibatan orang lain yang lebih bijak dan dewasa dalam hal pemikiran.
Ia menyebutkan, bahwa populasi milenial di Indonesia sejauh ini masih dipandang sebagai konsumen, baik itu oleh dunia korporasi atau potensi pemilih bagi para politikus. Mereka pun melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian milenial. Padahal, milenial harusnya tidak sebatas dilihat sebagai konsumen. Harus ada rencana jangka panjang bagi milenial yang merupakan calon pemimpin di masa yang akan datang.
Jadi, bagi hemat penulis, bahwa Pemimpin Milenial bukan sebuah jaminan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Atau malah sebaliknya menjadi penghambat lajunya roda pemerintahan itu sendiri.
Sebab menjadi seorang pemimpin itu tidak segampang membalikkan telapak tangan, harus komplek, termasuk kematangan dalam berfikir dalam menahkodai sebuah pemerintahan yang penuh warna-warni.
Wallahu'alam Bissoweb..
Penulis, pecinta kopi hitam, tinggal di Bluto, 28/7/2019.
Friday, July 26, 2019
Ada Apalagi dengan Pansel OPD Sumenep?
Sejumlah mahasiswa saat berdemo di Kantor Pemkab Sumenep, terkait lelang jabatan 9 OPD, beberapa waktu lalu.
SUMENEP: Siang ini, Jumat (26/07/19) penulis sepulang dari solat jumat, merebahkan diri di ruangan tamu Kantor KJS, di Perumnas Regensi 04 Kolor, Sumenep.
Sambil membuka Hp dan menghidupkan data seluler, tiba-tiba 'dangdingdung' suara pesan yang masuk di sejumlah group yang ada di ponsel saya.
Karena penasaran saya buka satu persatu isi pesan yang masuk di group itu. Dan ternyata isinya rata-rata link berita yang di shere oleh teman-teman. Kemudian saya melihat dari link itu, beritanya sama-sama terkait Pansel OPD di lingkungan pemkab Sumenep.
Saya semakin penasaran, dan menuntaskan membaca berita-berita itu. Usai membaca saya bertanya-tanya sendiri, ada apalagi dengan proses lelang jabatan sembilan OPD di Sumenep ini. Sebab sebelumnya belung hilang dari ingatan saya, sejumlah mahasiswa pernah mendatangi Kantor Pemkab Sumenep, berunjuk rasa, karena mencium aroma "main mata" dalam proses lelang jabatan tersebut.
Nah, saat ini muncul lagi persoalan lain, bahwa di tubuh Pansel diduga ada yang menjadi pengurus Parpol, (Baca:Koranmadura,26/07/2019) Entah, seperti apa kebenarannya?
Kalau misalkan benar adanya yang bersangkutan menjadi salah satu pengurus Parpol, maka wajar bila mendapatkan protes sejumlah pihak, karena telah dinilai melanggar ketentuan yang berlaku,(Penamadura,26/07/19)
Lantas Penulis bertanya-tanya dalam hatinya, masak iya pihak-pihak yang terlibat dalam perekrutan Pansel OPD di lingkungan Pemkab Sumenep, tidak tahu aturan itu. Atau memang sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu, karena mungkin beranggapan tidak akan ada yang mempersoalkan di kemudian hari.
Lalu, bila faktanya sudah tersiar ke publik, bagaimana status legalitasnya selaku Panitia Penting dalam proses lelang 9 OPD di Lingkungan Pemkab Sumenep. Apakah yang dimaksud harus dibatalkan dari keanggotaannya, sehingga harus merekrut lagi. Atau dibiarkan saja mengalir tanpa memperdulikan protes publik. Lantas siapakah sih yang akan bertanggung jawab dalam persoalan ini. Maaf tulisan ini belum selesai, terpaksa saya hentikan sampai disini. Biarkan publik yang mencari jawabannya sendiri. Wallahu'alam Bissoweb.
Penulis, pecinta kopi hitam, tinggal di Bluto.
Thursday, July 25, 2019
Demokrasi, atau Sekedar Pertarungan Bandar Politik
(Celoteh Si Bohayy di Kantin Bu. Jono)
Siang itu, tanpa sengaja dipertemukan dengan Si Bohayy di Warung pojok Dewan, milik Bu Jono. Tegur sapa pun berlangsung, lalu duduk sebangku sambil diskusi kecil mengalir, tidak terasa sesekali canda tawa spontan terlontar.
Di tengah canda tawa Si Bohayy dengan cirikhas topi hitamnya, diiringi gerakan tubuhnya yang lentur. Perlahan-lahan menyentil persoalan perpolitikan yang dibungkus dengan pesta demokrasi yang berkembang belakangan ini. Penulis sontak tertarik mencoba mengorek dan memancing Si Bohayy untuk mengeluarkan pandangannya tentang perpolitikan di tanah air.
Dari sekian perbincangan terkait politik, penulis berusaha menggiring ke isu lokal, yaitu menuju Sumenep 2020. Spontan SI Bohayy semakin energik untuk mengemukakan pandangannya. Sehingga dari sekian pandangan SI Bohayy terkait Sumenep 2020, penulis sedikit banyak mendapatkan imformasi baru. Namun yang menarik dari perbincangan dia, bahwa "Demokrasi sejatinya pertarungan bandar politik," dimana dalam ranah ini, tiada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang sejati.
Semua bertaruh unjuk kekuatan dan unjuk peranan dalam politik transaksional yang ujung pangkalnya untuk melanggengkan poros oligarki atau menciptakan oligarki baru. Ibaratnya, elitnya berteman, pionnya disuruh bermusuhan. Seperti yang terjadi pembelahan dukungan antara kubu 01 dan 02 sehingga muncul istilah "cebong-kampret". Tetapi fakatanya saat ini para elitnya mulai berangkulan, dan mulai duduk bersama. Entah, apa isi dan maknanya dari peristiwa rangkulan itu, karena yang tahu hanyalah mereka.
Sementara "Publik" yang kadung bermusuhan akan menanggung resiko sosial-politik dalam relasi narasi keseharia. Sedangkan "Para bandar" akan berhitung untung-rugi, begitu pun para pemburu rente sudah siap dalam posisi gigi satu dan tancap gas untuk cepat melakukan manufer dengan kacamata kuda dengan menyalip atau mengubah dukungan agar tidak keteteran dalam perebutan kue-kue pembangunan di masa mendatang.
Menang-kalah akan berdampak kepada logistik yang ditariknya, jika kalah harus mengembalikan logistik yang digunakan dalam termin tertentu yang kadang bisa membuat kandidat bangkrut. Tapi jika menang pun akan tersandera, karena juga akan mengembalikan nilai yang serupa berupa imbal jasa dalam bentuk yang lebih halus berupa proyek-proyek pembangunan, atau saya menyebutnya “kue politik”.
Lantas siapa yang diuntungkan dalam pesta demokrasi itu? Tentu saja publik, tapi publik yang berwajah bandar dan oligarki dalam jubah kapitalisme.
Publik, dari mulai buruh, petani, seniman hingga akademisi digiring menuju ladang balot elektoral saat pemilu/pilkada. Namun tetap saja demokrasi kotak suara hanya janji manis oligarkis. Demokrasi politik liberal yang bersekutu dengan ekonomi kapitalis neoliberal telah menciptakan krisis partisipasi publik.
Pengadopsian ideologi neoliberal secara masif dalam politik elektoral yang dianut oleh para kandidat, hanyalah untuk mentransformasikan seluruh bangunan relasi-relasi sosial menjadi pasar bebas yang endingnya menjadikan warganya yang konsumtif. Wallahu'alam Bissoweb.
Penulis, pecinta kopi hitam, tinggal di Bluto Sumenep, 25 juli 2019.
Wednesday, July 24, 2019
Tumpukan Garam Menggunung Berwarna Kecoklatan
Tumpukan Garam hasil produksi 2018 di gudgudang PT. Garam Persero Kalianget, Sumenep
SUMENEP:Sejak menjadi jurnalis pada Tahun 2009 lalu, baru kali ini saya melihat tumpukan garam menggunung berwarna kecoklatan di dalam Gudang milik PT. Garam Persero di Desa Karangayar Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura, Rabu 24 Juli 2019 kemarin.
Ternyata, garam yang sudah tidak putih ini merupakan hasil produksi Tahun 2018 lalu ngendon belum terjual di dalam gudang. Penulis panasaran berusaha mencari tahu, kenapa kok belum terjual, lalu sampai kapan garam itu tetap disimpan. Sementara proses produksi garam terus berjalan. Lahan pegaraman milik PT. Garam di dekat gudang melimpah. Lantas bagaimana dengan nasib garam rakyat yang tidak terserap, Mau dijual ke mana?.
Pertanyaan itu, penulis berusaha mencari jawabannya. Akhirnya setelah beberapa lama penulis bersama manteman jurnalis lainnya, yang tergabung dalam Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) berkeliling dari gudang satu ke gudang lainnya, ternyata menemukan tumpukan garam yang rata-rata hasil produksi garam yang tahun lalu. Di samping warnanya sudah tidak putih, garam itu mengeras dan padat serperti batu. Tertulis jumlahnya di tiap satu gudang itu 5 ribu ton lebih, ada sekitar 6 gudang yang berjejer di sebelah timur jalan yang menuju Desa pinggir papas. Belum lagi tumpukan garam yang ada di luar gudang ditutup dengan terpal, juga terlihat menggunung. Berdasarkan catatan PT. Garam jumlah stok garam hingga juli awal 2019 sebanyak 211.307 ton, rinciannya
Garam serapan 120.000 ton dan milik
PT Garam sendiri 91.307 ton.
Kepala Bagian Pembelian Garam PT. Garam Persero, Moh. Hatib mengungkapkan, sejauh ini pihaknya belum melakukan penyerapan garam rakyat di Sumenep karena belum memiliki tempat penyimpanan. Sementara gudang yang ada sudah penuh. "Untuk wilayah madura, kami baru melakukan penyerapan garam rakyat di Sampang, di Sumenep masih mempersiapkan tempatnya," katanya.
Disoal mengenai marak impor garam yang diprotes petani selama ini, pihak PT. Garam berdalih bahwa garam lokal selama ini hanya untuk konsumsi. Sementara untuk garam impor peruntukannya untuk industri. "Jadi garam lokal masih belum memenuhi syarat untuk industri" dalih Sekertaris PT Garam, Hario Junianto.
Selain itu, Sambung dia, pada saat melakukan penyerapan garam rakyat musim lalu, harga garam di kisaran Rp 1.200 hingga 1.300 per kilo. Sementara sekarang harga garam anjlok hingga di bawah Rp 700 ribu per ton.
Sementara untuk menjual garam di bawah harga pembelian atau menjual rugi, menurut dia pihaknya tidak bisa serta merta. Tapi harus menunggu ketetapan dari pemerintah. “Jadi itu bukan hanya kewenangan PT. Garam,” jelasnya.
Oleh karena itu, harapan petani garam di sumenep musim produksi tahun ini, bisa dibilang kecil, mengingat hingga saat ini PT.Garam Persero yang merupakan BUMN belum juga melakukan pembelian garam rakyat. Semoga pemerintah segera mencarikan solusi agar petani garam tidak merasa dikecewakan. Semoga!
Monday, July 22, 2019
Memotret Masa Lalu, Untuk Memahami Hari Ini dan Merangkai Hari Esok Lebih Baik
Ya Allah Ya Rob!
Semua orang punya latar belakang yang berbeda, masa lalu yang tidak sama serta segudang pengalaman hidup yang beragam. Ada yang punya masa lalu kelam, ada juga yang cemerlang. Semua itu Sunnatullah. Sebagai wujud kekuasaan yang Maha Kuasa menciptakan mahluknya yang tidak seragam. Sebab dengan seperti itu, maka kehidupan ini semakin indah. Seperti pelangi berwarna-warni di langit indah dipandang mata.
Meski, punya masa lalu yang kelam bukan berarti patah semangat. Melainkan harus bangkit memulai yang baru yang lebih terang. Jadikan masa lalu yang kelam sebagai bahan renungan untuk introspeksi dan evaluasi diri (Baca:Managemen Golbu).
Masa lalu dipotret untuk memahami hari ini yang tengah dijalani. Semua yang tampak di hadapan mata direkam oleh panca indra, kemudian dijadikan sebuah inspirasi untuk membuktikan diri melakukan yang terbaik, minimal untuk kehidupan dirinya sendiri. Sebab apa yang sudah diputuskan dalam kehidupan realita hari ini, masih belum tuntas. Sebab masih ada kehidupan baru lagi yaitu, hari esok yang belum tampak oleh kasat mata. Karena tidak seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi hari esok. Yang ada hanyalah perencanaan yang belum pasti. Makanya manusia perlu sadar diri bahwa dalam hidup ini penuh misteri tidak ada yang abadi (lagu Noah).
Manusia berkewajiban berusaha, dengan kekuatan yang dimiliki baik tenaga dan pikiran yang telah diberikan oleh Allah. Untuk dilestarikan dan dimaksimalkan, selebihnya sepenuhnya hak proitas Allah dengan segala takdirnya. Manusia hanya mampu berdoa, yang diiringi kesabaran, keikhlasan serta tawakkal. Insaallah dengan seperti itu Allah akan memberikan takdir baik untuk hari esok dan seterusnya di masa-masa yang akan datang. Karena Allah adalah dzat yang Maha Mengabulkan doa dari mahluknya. Insaallah Allah akan memberikan jalan keluar. Semoga!
Wallahua'alam Bissoweb..
Penulis, pecinta kopi hitam, tinggal di Bluto Sumenep, 23 juli 2019.
Subscribe to:
Posts (Atom)








