Thursday, August 29, 2019
Bacakades Aeng Panas Serukan Pilkades Aman dan Kondusif
Sumenep: Berbeda dengan yang difkirkan banyak orang akan nuansa ketegangan mewarnai Pilkades Aeng Panas karena banyaknya calon, ternyata semua Bakal calon Kepala Desa Aeng Panas ramai ramai penuh persaudaraan hadiri penutupan masa penjaringan Bacakades Aeng Panas Kamis sore (29/08/2019). di balai desa.
Semua Bacakades berkometmen untuk menciptakan situasi Pilkades yang aman, damai, kondusif dan berintegritas. di akhir acara semua bakal calon secara bergantian berdoa untuk keselamatan pelaksanaan Pilkades dan kedamaian desa, mereka sejak awal bahkan duduk berdampingan tanpa jarak dan foto bareng dengan mengangkat tangan saling merangkul simbol persaudaraan.
Pj Kades Aeng Panas Ach Subairi Karim dalam sambutannya mengaku senang dengan suasana keakraban yang ditunjukkan calon.
" Banyak calon banyak pilihan, mari terus jaga semangat persatuan dalam perbedaan. Banyak calon adalah juga potensi mengurai dukungan tidak jatuh pada polarisasi perpecahan yg ekstrim", ujarnya mencoba menepis dugaan dugaan negatif dari banyaknya calon.
Pernyataan tersebut juga dikuatkan Ketua Panitia Imam Sutaji bahwa kita ingin menepis anggapan bahwa tak ada ketegangan disini, yang ada keseruan dan keakraban, katanya berurai senyum. Bahkan kabar ada calon dari luar sampai detik penutupan penjaringan tidak ada.
"Ternyata tak ada calon dari luar desa, kita tak kehabisan stok calon pemimpin hebat. Situasi keakraban antar calon ini mohon terus dijaga sampai hari pencoblosan", katanya disambut tepuk tangan.
Sementara Pimpinan BPD Suhari sebagai pengawas juga mengharapkan agar Bacakades terus membangun komunikasi dengan panitia setiap menjumpai berbagai peristiwa dalam seluruh tahapan.
"Jangan endapkan masalah atau peraturan yang tak difahami, komunikasikan dengan Panitia atau pengawas, kita semua ingin suasana kondusif", katanya mengakhir sambutan.
Akhirnya Ketua Panitia menutup masa akhir penjaringan dengan 7 (tujuh) orang bakal calon. Panitia masih akan menangguhkan proses berikutnya dengan terus berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kabupaten, karena menurut informasi calon yang lebih dari lima calon juga akan dilangsungkan uji kompetensi dari tim independen. (Zbr).
Wednesday, August 28, 2019
"Pa'-Lopa' ", Budaya Nenek Moyang dalam Mempererat Persaudaraan
"Pa'-Lopa'" ,Rokoknya Para Leluhur
Belum hilang dari ingatan saya, saat masih kecil dulu, di mana pada waktu itu almarhum Kakek saya masih hidup. Sering saya lihat ketika ada kerabat ataupun tamu yang datang, maka pertama kali yang dilakukan Kakek menyodorkan "Pa'-lopa' "sambil lalu berbincang-bincang dengan penuh kedamaian dan kegembiraan. Sambil melinting rokok atau lumrahnya dikenal "Mesyel" lalu datang sang Nenek menyodorkan kopi hitam hangat. Sontak kegembiraan mereka bertambah dengan kehadiran kopi hangat yang merupakan pasangan harmonis dengan tembakau asli atau Pa'-lopa' tersebut.
Menariknya, dari perbincangan mereka, mulai seputar pertanian, hewan ternak hingga cerita-cerita masa kecil mereka dahulu. Bahkan yang tidak kalah menariknya, saat mereka bercerita kejadian lucu-lucu dari orang-orang dahulu yang pernah mereka dengar. Sontak gelak- tawa pun pecah siiring semburan asap dari rokok Pa'-lopa' yang mereka hisap.
Tanpa terasa mereka berjam-jam duduk santai sambil berbincang-bincang banyak hal. Sehingga rasa persaudaraan di antara mereka tambah erat berkat pengaruh tembakau Pa'-lopa' yang menjadi alat komunikasi mereka. Bahkan tidak hanya itu, budaya gotong royong pun tetap terbangun, terbukti di akhir perbincangan mereka. Sang Kakek meminta bantuan untuk mengolah sawah untuk bercocok tanam, yaitu tanaman jagung miliknya. Seketika itu kerabat yang diajak ngobrol itu menyanggupi tanpa meminta bayaran ongkos membajak sawah Kakek. Mereka hanya cukup disuguhi makan dan kopi serta tembakau Pa'-lopa' yang dibawa ke lokasi sawah yang dibajak tersebut. Terlihat dengan penuh kedamaian di sela-sela istirahat mengoprasikan bajak sawah tradisional menggunakan sapi, mereka menikmati makanan, kopi hangat dan Pa'-lopa' di bawah pohon yang teduh di pinggir sawah. Sungguh luar biasa sebuah bangunan badaya nenek moyang dahulu, yang belakangan sudah nyaris tidak pernah ditemukan lagi di masyarakat pedesaan di zaman yang makin moderen ini.
Di mana budaya gotong royong mulai luntur. Tidak bisa dipertahankan lagi. Sebab saat ini tradisi gotong royong sudah berubah ke ukuran matari. Sekarang setiap mengolah sawah, ataupun memetik tembakau dan merajang semuanya harus diongkos. Sudah tidak ada lagi istilah gotong royong lagi. Padahal dulu saat saya masih kecil, mulai dari tanam bibit tembakau hingga panen sistimnya gotong royong giliran dengan petani lainnya. Entah kedepannya seperti apa karena kondisi zamanya terus berubah seiring perkembangan yang semakin pesat dan semakin moderen dengan semakin banyaknya alat pertanian yang semakin canggih. Wallahu'alam Bissoweb.
Penulis, pecinta kopi hitam.
Tuesday, August 20, 2019
Sumpah dan Janji Dewan, Sejatinya Amanah yang Dipertanggungjawabkan
Pengucapan Sumpah dan Janji Anggota DPRD Sumenep Masa Jabatan 2019-2024
Bersamaan dengan nuansa HUT RI ke 74, sebanyak 50 Anggota DPRD Sumenep masa jabatan 2019-2024 telah diambil Sumpah dan janjinya di Pendopo Kraton Sumenep, 21 Agustus 2019.
Dengan begitu, para wakil rakyat ini dengan segenap jiwa dan raganya sudah mengemban amanah untuk memperjuangkan nasib rakyat. Para wakil yang sudah dilantik ini otomatis berkewajiban mencarikan solusi berbagai persoalan yang akan dihadapi rakyat lima tahun kedepan.
Tidak ada alasan lagi bagi Dewan yang dipilih oleh rakyat, untuk tidak memperjuangkan nasib rakyat. Semua janji yang digambar-gemborkan sejak masa kampanye betul-betul harus dibuktikan. Jangan sampai mengecewakan, apalagi menghianati kepercayaan rakyat. Sebab "Suara Rakyat adalah Suara Tuhan" yang pertanggungjawabannya tidak hanya secara sosial tetapi yang paling merinding pertanggungjawaban kepada Tuhan.
Sepintas, jabatan itu terlihat seksi dan menggiurkan. Namun, dibalik itu sebuah tugas yang sangat berat. Bagaimana memikul amanah rakyat untuk diwujudkan semaksimal mungkin. Karena setiaap saat akan selalu ditagih sesuai dengan sumpah dan janjinya kepada rakyat. Semoga 50 orang yang akan duduk di parlemen ini, betul-betul sejalan dan selaras dengan kehendak rakyat. Selamat bertugas dan menjalankan amanah rakyat. Semoga Sumenep kedepan akan lebih baik, di bawah tangan wakil rakyat yang baru dilantik tersebut. Semoga!.
Penulis, pecinta kopi hitam.
Bersamaan dengan nuansa HUT RI ke 74, sebanyak 50 Anggota DPRD Sumenep masa jabatan 2019-2024 telah diambil Sumpah dan janjinya di Pendopo Kraton Sumenep, 21 Agustus 2019.
Dengan begitu, para wakil rakyat ini dengan segenap jiwa dan raganya sudah mengemban amanah untuk memperjuangkan nasib rakyat. Para wakil yang sudah dilantik ini otomatis berkewajiban mencarikan solusi berbagai persoalan yang akan dihadapi rakyat lima tahun kedepan.
Tidak ada alasan lagi bagi Dewan yang dipilih oleh rakyat, untuk tidak memperjuangkan nasib rakyat. Semua janji yang digambar-gemborkan sejak masa kampanye betul-betul harus dibuktikan. Jangan sampai mengecewakan, apalagi menghianati kepercayaan rakyat. Sebab "Suara Rakyat adalah Suara Tuhan" yang pertanggungjawabannya tidak hanya secara sosial tetapi yang paling merinding pertanggungjawaban kepada Tuhan.
Sepintas, jabatan itu terlihat seksi dan menggiurkan. Namun, dibalik itu sebuah tugas yang sangat berat. Bagaimana memikul amanah rakyat untuk diwujudkan semaksimal mungkin. Karena setiaap saat akan selalu ditagih sesuai dengan sumpah dan janjinya kepada rakyat. Semoga 50 orang yang akan duduk di parlemen ini, betul-betul sejalan dan selaras dengan kehendak rakyat. Selamat bertugas dan menjalankan amanah rakyat. Semoga Sumenep kedepan akan lebih baik, di bawah tangan wakil rakyat yang baru dilantik tersebut. Semoga!.
Penulis, pecinta kopi hitam.
Friday, August 16, 2019
Keranda
Kendaraan Terakhir Manusia
Keranda, kendaraan ini meski jarang disebut, tetapi ini kendaraan paling berarti di akhir perjalanan hidup manusia. Bahkan kendaraan inilah yang mengantarkan ke tempat pembaringan terakhir manusia hingga hari kiamat. Inilah kendaraan yang diistilahkan,"Terbang tanpa sayap, berjalan tanpa kaki,".
Misteri Kendaraan ini, tanpa membedakan status sosial manusia. Karena semua orang mulai dari yang muda hingga dewasa tanpa terkecuali sudah pasti menaiki kendaraan ini.
Bila diresapi, alangkah bersyukurnya manusia diciptakan menjadi mahluk paling mulya dari mahluk lainnya, hingga ke tempat terakhir pun masih diantar menggunakan kendaraan "Keranda".
Semoga dengan meresapi kendaraan penuh misteri ini, dapat mengingatkan manusia, bahwa dunia bukan segalanya. Meminjam bahasanya Peterpen," Tak ada yang Abadi di dunia ini,". Karena keabadian yang sesungguhnya adalah di Akhirat.
Meratapi dari keranda ini, apa yang dimiliki di dunia tidak berarti. Karena yang akan dibawa hanyalah amal kebaiknya selama masih hidup di dunia. Semoga kita semua dimasukkan dalam golongan manusia yang Khusnul Khotimah di akhir hayatnya. Semoga!.
Penulis, pecinta kopi hitam.
Keranda, kendaraan ini meski jarang disebut, tetapi ini kendaraan paling berarti di akhir perjalanan hidup manusia. Bahkan kendaraan inilah yang mengantarkan ke tempat pembaringan terakhir manusia hingga hari kiamat. Inilah kendaraan yang diistilahkan,"Terbang tanpa sayap, berjalan tanpa kaki,".
Misteri Kendaraan ini, tanpa membedakan status sosial manusia. Karena semua orang mulai dari yang muda hingga dewasa tanpa terkecuali sudah pasti menaiki kendaraan ini.
Bila diresapi, alangkah bersyukurnya manusia diciptakan menjadi mahluk paling mulya dari mahluk lainnya, hingga ke tempat terakhir pun masih diantar menggunakan kendaraan "Keranda".
Semoga dengan meresapi kendaraan penuh misteri ini, dapat mengingatkan manusia, bahwa dunia bukan segalanya. Meminjam bahasanya Peterpen," Tak ada yang Abadi di dunia ini,". Karena keabadian yang sesungguhnya adalah di Akhirat.
Meratapi dari keranda ini, apa yang dimiliki di dunia tidak berarti. Karena yang akan dibawa hanyalah amal kebaiknya selama masih hidup di dunia. Semoga kita semua dimasukkan dalam golongan manusia yang Khusnul Khotimah di akhir hayatnya. Semoga!.
Penulis, pecinta kopi hitam.
Wednesday, August 14, 2019
Kemerdekaan Bukan Sekedar Euforia!
Seringkali dijumpai di berbagai tempat, beragam kegiatan momentum Hari Kemerdekan Republik Indonesia. Baik kegiatan yang bersifat perlombaan, maupun segudang kegiatan lainnya. Yang terkadang jauh dari substansi cita-cita kemerdekaan itu sendiri. Justru yang nampak hanya terkesan euforia tahunan. Mestinya HUT RI itu, dimaknai dengan kegiatan yang lebih membangun dan menyeluruh dengan mengedepankan nilai dan prestasi, utamanya yang menyangkut pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).
Sebab, tantangan para generasi di zaman milenial ini sangat kompeleks, perlu pembekalan dan persiapan secara matang, untuk bisa bersaing dengan negara lain. Para generasi dituntut memiliki wawasan luas dan menyeluruh. Sehingga tidak mudah terperangkat oleh tipu muslihat negara yang sudah maju.
Yang salah satunya, bagaimana desain dari sejumlah kegiatan momentum kemerdakaan itu, lebih berkualitas yang berdampak pada aspek keilmuan maupun pengetahuan para generasi bangsa ini kedepan.
Sangat disayangkan bila generasi milenial ini, secara keilmuan dan pengetahuannya masih saja berkutat di skala lokal, tak uabahnya coppy paste dari generasi sebelumnya. Seharusnya generasi milenial sudah go international. Membuktikan capaian prestasi kepada dunia, bahwa generasi bangsa Indonesia juga mampu bersaing menjadi pelaku dari perkembangan pengetahuan itu sendiri.
Oleh karena itu, perlu membuang jauh-jauh budaya "Latah" menjadi pengagum dan penonton budaya luar, tanpa melihat potensi yang ada, di mana bila dikembangkan dengan sungguh-sunggug jauh lebih sempurna dari budaya luar yang sifatnya pragmatis belaka.
Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi, bagi hemat penulis, di saat negara luar sudah bicara penemuan terbaru, di negeri ini masih sibuk mengurusi angka buta huruf, kemiskinan, kesenjangan sosial dan persoalan bagi-bagi kursi jabatan dan semacamnya. Justru dengan keterbelakangan itu, semakin dibuat ketergantungan oleh negara luar, dengan segala tampilan pengetahuannya. Masyarakat kita ini "Terkesan semakin dibodohi,". Berhubung SDM yang ada tidak mampu mengimbangi mereka. Sehingga harus pasrah pada nasib di bawah tekanan kapitalisme global.
Semoga di momentum HUT RI ke 74, bangsa ini jauh lebih peka, dalam memaknai Hari Kemerdekan. Tentunya dengan pola pikir yang jauh lebih maju dan lebih berkualitas lagi dalam membangun SDM yang siap bersaing dengan dunia international di masa-masa yang akan datang. Semoga!
Penulis, pecinta kopi hitam, tinggal di Bluto Sumenep, 14 Agustus 2019.
Saturday, August 10, 2019
Tradisi Potong Ayam Kampung, Sambut Lebaran Idul Kurban
Ayam Kampung Dipanggang
Beragam tradisi menyambut Lebaran Idul Adha, salah satunya tradisi potong ayam kampung untuk suguhan Jamaah Solat Ied.
Tradisi ini potong ayam kampung ini, biasa dilakukan oleh warga Desa Meddelen, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Setiap warga di Desa ini, kompak potong ayam kampung. Namun dalam proses memasaknya juga berbeda. Ayam yang dicabuti bulunya itu, kemudian 'diopor' atau dipanggang sampai matang, sehingga mengeluarkan aroma yang berbeda dari cara memasak biasanya.
"Masakan ini nantinya di bawa ke langgar atau Masjid, untukn suguhan jemaah usai laksanakan solat IED," kata salah seorang warga, Nurhayati
Di samping itu, kata dia, masakan ini juga diantarkan ke sanak famili dan tetangga sekitar sebagai suguhan lebaran." Hal semacam biasa baik Idul kurban maupun Idul fitri," tandasnya.
Beragam tradisi menyambut Lebaran Idul Adha, salah satunya tradisi potong ayam kampung untuk suguhan Jamaah Solat Ied.
Tradisi ini potong ayam kampung ini, biasa dilakukan oleh warga Desa Meddelen, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Setiap warga di Desa ini, kompak potong ayam kampung. Namun dalam proses memasaknya juga berbeda. Ayam yang dicabuti bulunya itu, kemudian 'diopor' atau dipanggang sampai matang, sehingga mengeluarkan aroma yang berbeda dari cara memasak biasanya.
"Masakan ini nantinya di bawa ke langgar atau Masjid, untukn suguhan jemaah usai laksanakan solat IED," kata salah seorang warga, Nurhayati
Di samping itu, kata dia, masakan ini juga diantarkan ke sanak famili dan tetangga sekitar sebagai suguhan lebaran." Hal semacam biasa baik Idul kurban maupun Idul fitri," tandasnya.
Wednesday, August 7, 2019
Misteri, Jabatan Pemimpin Banyak Diburu tapi Marak Dibui
Bagi orang awam seperti Saya, hanya bisa bilang aneh, heran dan penuh misteri. Ketika melihat para pemimpin yang endingnya berakhir dibui. Padahal para pimimpin itu, sejauh pemahaman saya, merupakan putra terbaik di daerah yang bersangkutan. Karena kalau bukan putra terbaik rasanya mustahil dipilih oleh rakyatnya.
Entah, kalau dalam kacamata berbeda. Misalkan diteropong dari sudut politik atau persoalan lain. Terlepas dari itu, yang namanya pemimpin, saya tetap meyakini adalah putra terbaik.
Cuma, yang membuat saya selalu bertanya-tanya kenapa justru banyak pemimpin yang berakhir dibui? Yang rata-rata terjerat kasus korupsi. Setelah dipikir panjang pemimpin itu, kalau di pemerintahan sejatinya pelayan rakyat. Saya yakin pikiran dan tenaganya setiap saat terkait kebijakan untuk kepentingan rakyat. Tetapi mengapa masih terjerat hukum. Dan kasus korupsi lagi? Padahal mereka sudah jelas-jelas gajinya tidak kecil. Rasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan keluarganya sudah lebih dari cukup, dibanding orang biasa yang juga memiliki tanggungan keluarga.
Apanya yang salah ya? Yang semestinya seorang pemimpin itu, dihormati, disegani, kharismatik, pokoknya full sempurna lah. Tetapi faktanya, semenjak berdirinya lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2002 silam di masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, (Sindo.news.com, 20/8/201/), hingga sekarang sudah berapa banyak para pemimpin yang dibui.
Bahkan, dilansir dari (tribunnews.com, 29/01/2019) disebutkan sejumlah pelaku korupsi di sektor politik yang ditangani KPK berjumlah 69 orang anggota DPR, 161 orang anggota DPRD, 107 orang kepala daerah.
Para politisi tersebut melakukan korupsi bersama-sama pihak swasta seperti pemegang izin perkebunan, kehutanan, izin mendirikan bangunan proyek-proyek besar, dan pelaksana proyek pengadaan di pusat dan daerah, serta pejabat level atas di birokrasi.
Jika semua ditotal, lebih dari 60 persen dari seluruh pelaku korupsi yang ditangani KPK merupakan korupsi politik atau dilakukan bersama-sama aktor politik.
Meskipun begitu, faktanya hingga saat ini jabatan pemimpin itu masih jadi rebutan paling seksi. Mulai dari tingkat Desa.(Pilkades) pemilihan Bupati, Gubernur dan pemilu Presiden
ternyata Masih banyak orang-orang yang merasa memiliki kemampuan dan kekuatan bertarung untuk merebut kekuasaan tersebut. Entah, niatannya betul-betul ingin mengabdi menjadi pelayan rakyat, atau sebaliknya untuk memperkaya diri yang endingnya dibui.
Padahal, kalau melihat kinerjanya KPK belakangan yang seringkali melakukan OTT di sejumlah tempat, seolah kasus korupsi di negeri ini akan habis. Namun, kenyataan berbicara lain. Terbukti sejak belasan tahun KPK berdiri hingga sekarang, kasus korupsi dipertontonkan nyaris tiap hari di televisi. Bahkan tak jarang pelaku yang disorot kamera senyum-senyum saja seolah tidak pernah merasa berdosa, dan terkadang masih mengelak tidak mengakui perbuatannya dengan menyewa pengacara handalnya. Sepintas saya selaku masyarakat awam dibuat bingung dengan persoalan korupsi itu sendiri.
Sampai kapan istilah korupsi itu akan leyap dari pandagan dan pendengaran kita? Lalu bila sejumlah institusi hukum sudah tidak mampu memberantas kasus yang merugikan uang negara itu. Lantas ke siapa lagi persoalan itu akan bisa beres ditangani. Biarlah rumput bergoyang yang menjawabnya. Semoga kedepan para pemimpin di tanah air, mulai dari tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan tingkat pusat. Betul-betul memiliki kometmen untuk mengabdi menjadi pelayan rakyat hingga berakhir dari jabatannya yang membahagiakan dan membanggakan. Sehingga sampai kapanpun akan selalu mendapatkan tempat di hati rakyatnya. Wallahu'alam Bissoweb.
Penulis, pecinta kopi hitam tinggal di bluto, 7 agustus 2019.
Subscribe to:
Posts (Atom)









